materi pop tambang

Mekanik- Untuk rekan-rekan yang menjadi pengawas atau pekerja tambang, dan sedang prepare untuk menghadapi tes sertifikasi POP (Pengawas Operasional Pratama). Berikut materi yang kami Rangkum:

1. Kewajiban Pengawas Operasional (Pasal12 Kepmen 555K/1995)
  • Bertanggung jawab kepada Kepala Teknik Tambang untuk keselamatan semua pekerja tambang yang menjadi bawahannya.
  • Melaksanakan inspeksi, pemeriksaan, dan pengujian.
  • Bertanggung jawab atas keselamata, kesehatan, dan kesejahteraan dari semua orang yang ditugaskan kepadanya,
  • Membuat dan menandatangani laporan-laporan pemeriksaan, inspeksi dan pengujian.
2. PENDIDIKAN & PELATIHAN (28-30)
  • KTT wajib mengadakan diklat K3:
    • Pekerja baru
    • Pekerja Tugas baru
    • Penyegaran, dan
  •  Diklat lain yang ditetapkan KAPIT .
  • Diklat diselenggarkan sendiri atau kerja sama dengan instansi pemerintah atau badan resmi lainnya.
  • Setiap program diklat tsb harus mendapat persetujuan dari KAPIT
3. PEKERJA TAMBANG (32)
  • HAK:
    • Pemeriksaan kesehatan berkala (27) (palbum psl 45 ayat (2))
    • Diklat (28-30)
    • keberatan bekerja apabilatidak aman (32)
  • KEWAJIBAN:
    • Mematuhi peraturan K3 & Kerja sesuai SOP
    • Melaporkan penyimpangan pekerjaan/timbul bahaya kepada pengawas
    • Memakai dan merawat APD (Palbum psl 37)
    • Memberikan keterangan yang benar kepada PIT (32-6) dan ( psl 12 UU no. 1 th 1970) (Palbum 50 ayat (2))
    • Memperhatikan dan menjaga k2 dirinya serta orang lain
    • Melaporkan apabila ada kondisi berbahaya yang tidak bisa diatasinya
    • Melaporkan kecelakaan/cidera
4. KECELAKAAN TAMBANG (39)
  • Kecelakaan benar – benar terjadi, Artinya kecelakaan tersebut bener – benar terjadi tidak ada unsur kesengajaan dari pihak lain atau sikorban sendiri.
  • Menimpa karyawan. Artinya yang mengalami celaka tersebut adalah benar – benar karyawan yang bekerja pada perusahaan tambang tersebut
  • Ada hubungankerjadengankegiatanusahapertambangan. Artinya pekerjaan yang dilakukan korban adalah mempunyai kaitan   hubungan kerja usaha pertambangan.
  • Waktu jam kerja, Artinya kecelakaan tersebut terjadi dalam waktu jam kerja korban, yaitu waktu mulai bekerja sampai waktu berakhir kerja.
  • Di dalam Wilayah pertambangan, Artinya kecelakaan tersebut terjadi masih ada di dalam wilayah usaha kegiatan pertambangan
5. Penggolongan Cedera /Klasifikasi Kecelakaan Tambang
  1. Luka ringan: Apabila korban kurang dari 3 Minggu telah dapat bekerja kembali ketempat semula.
  2. Luka berat: Apabila korban lebih dari 3 Minggu baru dapat bekerja kembali ketempat pekerjaan semula seperti    biasa atau retak/patah/dislokasi/cacat tetap/hilang  bagian tubuh.
  3. Mati  : Apabila korban meninggal dalam waktu 24 jam sesudah terjadi kecelakaan tersebut
6. Proses Terjadinya Api
  1. Fuel ( Bahan ) Seperti : Kayu,serat,tekstil,cairan yang dapat terbakar,gas,bahan  kimia, dan plastik.
  2. Oksigen, Seperti : Oksigen bebas diudara ataupun oksigen murni.
  3. Heat ( Panas ) Seperti : tenaga panas kimia,listrik,tenaga panas mekanis dan panas.
7.Klasifikasi Api
  1. Kelas A ( Klas Ash / Abu ) yaitu API yang berasal dari material yang mudah terbakar dengan sisa pembakarannya abu.Material   : Kayu,plastik,kertas,kain , dll.Pemadaman : Pendinginan dengan air bertekanan atau dengan menyelimuti dengan Foam atau Dry Chemical ( Kimia kering ) dan halon
  2. Kelas B ( Boil / Mendidih ) yaitu API yang berasal dari material cair yang mudah menyala atau terbakar. Material  : minyak diesel, solar, bensin,tiner,cat,alcohol.Pemadaman: Foam ( busa ) ,CO2,kimia kering dan halon.
  3. Kelas C ( Current ) yaitu API yang terjadi karena listrik. Jenis api listrik : motor – motor listrik,kabel trolley,transformator,switch kontak,peralatan baterai. Pemadaman : Carbon Dioxide ( CO2),bubuk kimia kering dan halon.
  4. Kelas D ( Metal ) yaitu API yang berasal dari metal atau logam. Material:Magnesium,titanium,zirconium, sodium,dan potassium.Pemadaman : Bubuk kimia kering yang mengandung garam dapur,grafit atau grafit fosfor.
8. KEJADIAN BERBAHAYA (44-45)
  • Mesin pengangkat roboh, terbalik, rusak pada saat mengangkat.
  • Tabung bertekanan mekedak.
  • Terjadi hubung pendek, tegangan lebih disebabkan kebakaran, peledakan yang menyebabkan kegiatan terhenti lebih dari 24 jam.
  • Kebocoran bahan berbahaya.
  • Kendaraan pengangkut bahan berbahaya terbalik, dll
9. IZIN KERJA PANAS (HOT PERMIT) 167 (Palbum psl 30)
  • Pengelasan/pemotongan di tempat yang kondisinya dpt timbul ledakan atau kebakaran harus ada izin dari KTT atau orangyang ditunjuk.
  • Izinberlaku pada hari yang diterbitkan.
  • Pengawasan Intesif
10. AIR ASAM TAMBANG (ATT)

Pengertian : Proses lindian, rembesan, atau aliran akibat adanya oksidasi mineral sulfida pada kegiatan pertambangan

Prinsip pencegahan dan penanggulangan: hilangkan salah satuatau lebih unsur pembentuk ATT, yaitu mineral sulfida, oksigen atau air

11. UKL UPL:  Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL)  & Upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL)

adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha atau kegiatan yang tidak berdampak penting thd lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan ttgpenyelenggaraan usaha atau kegiatan.

12. Oil Trap / Kolam Pengendap

Untuk menampung ceceran minyak/ limbah hiydrocarbon dari sarana yang potensial  terjadi ceceran minyak

Tailing Pond : adalah kolam yang dibuat untuk mengendapkan atau menetralkan suatu limbah cair, sebuah proses pengolahan dengan tujuan mengendapkan muatan partikel maupun racun dalam limbah agar tidsk mencemari lingkungan, yang dapat dialirkan ke perairan umum setelah memenuhi buku mutu Limbah

Settling Pond : Yang dibuat dengan tujuan sebagai sarana proses pengendapan sedimen maupun partikel halus yang hanyut dibawa media air permukan sehingga jernih.

13. UU NO. 4 TH 2009
  • Pasal 96
    • Pemegang IUP dan IUPK wajib melaksanakan:
      • Ketentuan K3 Pertambangan
      • Keselamatan operasi Pertambangan
14. UU No. 4 TH 2009

Pasal 140

Menteri melakukan pengawasan pengelolaan usaha pertambangan oleh pemerintah provinsi, kabupaten/kota sesaui kewenangan.

Menteri, Gubernur dan bupati/walikota melakukan pengawasan kegiatan usaha pertambangan oleh pemegang IUP, IPR, IUPK

15. UU No. 4 TH 2009

Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.

16. UU No.1 TH 1970

Pasal 8 pengurus wajib melakukan:

  1. Pemerkisaan kesehatan mental dan fisik pekerja yang akan diterima/dipindah tugaskan.2
  2. Secara berkala pada dokter yang ditunjuk pengusaha.
  3. Pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan perundangan
17. KPMEN NO.555 K/26/M.PE/1995-1KEPMEN NO.02.P/20/M.PE/1990
KEPALA TEKNIK TAMBANG (KTT)

Pasal 1 ayat 6:

KTT adalah seseorang yang memimpin dan bertanggung jawab atas terlaksanannya serta ditaatinya peraturan perundang-undangan k3 pada suatu kegiatan usaha pertambangan diwilayah yang menjadi tanggung jawabnya. (Pabum psl 1 ayat (n) dan (o) dan psl 49)

Pasal 4 ayat 7:

“Pengusaha harus menghentikan pekerjaan usaha pertambangan apabila KTT atau petugas yang ditunjuk tidak berada pada pekerjaan usaha tersebut”.

18. PENGAWAS TEKNIS (13)
  • Bertanggungjawab untuk keselamatan peralatan.
  • Mengawasi dan memeriksa pemesinan dan perlistrikan.
  • Merencanakan dan menjamin dilaksanakannya pemeliharaan peralatan.
  • Melaksanakan pengujian.
  • Membuat laporan
19. BAGIAN K3
  • Mengumpulkan data, menganalisa kecelakaan.
  • Mengumpulkan data daerah yang berbahaya.
  • Memberikan penerangan/ petunjuk k3.
  • Membentuk dan melatih tim rescue.
  • Menyusun statistic.
  • Mengevaluasi K3
20. KOMITE K3
  • Melakukan pemeriksaan secara bersama-sama.
  • Mengatur inspeksi terpadu.
  • Melakukan pertemuan
21. REKLAMASI

Adalah kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya.

22. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)

•Adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan atau kegiatan.

23. Bahaya & Risiko
  • Bahaya adalah segala sesuatu yang berpotensi untuk menyebabkan kecelakaan (cidera pada manusia, kerusakan pada alat/proses/lingkungan sekitar).
  • Risiko adalah kemungkinan kecelakaan (cidera pada manusia, kerusakan pada alat/proses/lingkungan sekitar) yang dapat terjadi karena suatu bahaya.
24. Tipe Tipe Bahaya
  • Bahaya Kimia: debu, asap, gas
  • Bahaya Fisik: bising, getaran, pencahayaan
  • Bahaya Biologi: serangga, parasit, virus
  • Bahaya Ergonomi: stress fisik, stress jiwa
  • Bahaya Mekanis: titik jepit, titik geser
  • Bahaya Lingkungan Sekitar: kemiringan, licin
  • Bahaya Psikososial: intimidasi, trauma
  • Bahaya Tingkah laku: tidak patuh, tidak peduli
  • Bahaya Kelistrikan: pemasangan kawat, grounding
25. Hirarki Pengendalian Bahaya
  1. Primary control methods/ Engineering Control
  2. Secondary control methods/ Administrative Control
  3. Tertiary Control Methods/ Work Practice
  4. Alat Proteksi Diri (APD
26. Pengawas Langsung Harus Melakukan Investigasi atau Ikut Terlibat Investigasi karena:
  1. Pengawas memiliki kepentingan pribadi
  2. Pengawas mengetahui jelas kondisi tempat kerja dan sifat atau tabiat orang orang yang bekerja padanya
  3. Pengawas harus mengetahui dengan baik bagaimana dan dimana mendapatkan informasi yang diperlukan
  4. Pengawas adalah orang pertama yang harus memulai atau mengambil tindakan apabila kecelakaan
  5. Pengawas dapat mempelajari penyebab kecelakaan dan dapat segera mengambil tindakan perbaikan sebelum kecelakaan berikutnya terjadi
27. Tindakan Awal Ketika Kecelakaan Terjadi ( Tanggap Terhadap Keadaan Darurat):
  1. Lakukan pengendalian pada tempat kejadian
  2. Pastikan pertolongan pertama dan panggilan untuk pelayanan darurat
  3. Lakukan pengendalian terhadap potensi kecelakaan kedua/lanjutan yang mungkin timbul
  4. Identifikasi sumber dari fakta-fakta, dan keterangan yang ada di tempat kecelakaan
  5. Lindungi fakta-fakta dari perubahan, penggantian dan pemindahan
  6. Investigasi untuk menentukan potensi kerugian, cidera dan kerusakan
  7. Pemberitahuan kepada manager/atasan.
28. Tahapan Inspeksi
  1. Persiapan Inspeksi
  2. Pelaksanaan inspeksi:
    1. Siklus pengamatan:
      1. memutuskan
      2. berhenti
      3. mengamati
      4. bertindak
      5. melaporkan
    2. Objek Inspeksi/Pengamatan:
      1. Alat Pelindung diri (APD)
      2. Reaksi Seseorang
      3. Posisi Seseorang
      4. Perkakas dan Peralatan
      5. Tatacara/Prosedur kerja aman dan keteraturan/tata tertib
    3. Pengamatan Total:
      1. Melihat
      2. Mendengarkan
      3. Mencium
      4. Meraba/merasakan
    4. . Klasifikasi bahaya
      1. Kelas A: Fatal (>50 jt)
      2. Kelas B: major (25 -50 jt)
      3. Kelas C: Minor (<25 jt)
  3. Laporan Inspeksi
29. Pendekatan Analisa Tugas Untuk Membuat JSA:
  1. Inventarisasi tugas
  2. Identifikasi tugas yang kritis
  3. Mengurai tugas menjadi langkah atau aktifitas
  4. Menganalisa dengan tepat potensi kerugian
  5. Menyusun pengendaliannya dan prosedur atau petunjuk kerja
  6. Penggunaan pada pekerjaan
30. Faktor Penentu Tugas Kritis
  1. Faktor keparahan
  2. Faktor kekerapan
  3. Faktor peluang
  4. Faktor tugas baru
31. Penggunaan JSA Akan Sangat Bermanfaat Untuk Program K3:

1.Orientasi Pekerja Baru/Penugasan Baru

  •   Dengan JSA membantu mereka untuk dapat memahami bagaimana melakukan tugas atau pekerjaan tersebut dengan aman dan efisien.

2.   Pelatihan Pengawas baru

  •   Dengan alasan kekurangan personil sehingga harus mengambil pengawas dari bagian lain dan bahkan dari perusahaan lain, dan unutk itu mereka harus mendapat pelkatihan untuk tugasnya dan prosedur/petunjuk kerja akan sangat membantu dalam pelatihan ini.

3.Instruksi Tugas Yang Benar  

  • Mempunyai nilai yang sangat besar dalam membantu pengawas menemukan tanggung jawab dasar mereka untuk mengajar yang lain

4. Observasi Tugas Yang Terencana

  •   Memungkinkan supervisor secara sistematis dapat menganalisa sebaik apa performance dari pekerja untuk mengikuti standar yang diperlukan

5. Pertemuan Kelompok/Safety Talk 

  • Dapat digunakan sebagai topic diskusi khususnya apabila peserta dari pertemuan kelompok tersebut merupakan orang-orang yang terlibat dengan prosedur kerja tersebut serta orang yang terpengaruh dalam pekerjaan tersebut

6.Penyelidikan Kecelakaan/Insiden  

  • Membantu Supervisor melakukan penyelidikan kecelakaan/insiden dengan teliti dengan manganalisa apakah pekerjaan telah dilakukan sebagaimana mestinya

7.Pelatihan Keterampilan

  Akan memperolah keuntungan yang tinggi dalam hal :

  • Efisiensi, safety dan produktivitas yang lebih tinggi
  • Hasil yang lebih baik dari instruksi tugas, observasi tugas, pengajaran, pembimbingan, pelatihan keterampilan dan penyellidikan kecelakaan
  • Proteksi yang optimal untuk orang, property, proses, produktifitas dan kemampuan untuk mendapatkan untung.

Demikian Rangkuman materi untuk menghadapi tes sertifikasi POP.

Semoga bermanfaat,

Peringkat: 4 dari 5.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.